Kampus Times- Isu keberlanjutan kini menjadi perhatian utama dunia. Di balik semakin banyaknya perusahaan yang mengklaim peduli lingkungan, muncul fenomena yang dikenal sebagai greenwashing. Fenomena ini menjadi salah satu fokus riset Sena Pradipta, pegawai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang saat ini menempuh studi doktoral di School of Public Policy, Oregon State University, Amerika Serikat.
Dalam sebuah diskusi akademik, Sena tidak hanya membahas praktik greenwashing, tetapi juga berbagi pengalaman menjalani pendidikan di Amerika Serikat, tips memperoleh beasiswa Fulbright, hingga peluang kolaborasi riset antara akademisi Indonesia dan diaspora di luar negeri.
Mengenal Greenwashing dan Dampaknya

Greenwashing merupakan praktik penyebaran informasi yang menyesatkan oleh organisasi atau perusahaan untuk membangun citra seolah-olah memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan. Padahal, praktik operasional yang dijalankan belum tentu sesuai dengan klaim yang disampaikan kepada publik.
Fenomena ini semakin kompleks karena perusahaan memanfaatkan berbagai strategi komunikasi, label, hingga kampanye pemasaran untuk membentuk persepsi positif di mata masyarakat.
Memiliki Beragam Bentuk
Menurut Sena, praktik greenwashing tidak hanya berupa iklan yang berlebihan. Dalam kajian akademik, greenwashing terdiri atas empat genus dan sekitar dua puluh spesies yang mencakup berbagai bentuk, mulai dari hidden trade-off, penggunaan label lingkungan yang tidak valid, hingga structural decoupling atau ketidaksesuaian antara struktur organisasi dengan implementasi nyata.
Keberagaman bentuk tersebut membuat praktik greenwashing sering kali sulit dikenali oleh masyarakat umum.
Kasus Volkswagen Menjadi Pelajaran Dunia
Salah satu contoh paling terkenal adalah skandal emisi Volkswagen pada 2015. Perusahaan diketahui menggunakan perangkat lunak yang mampu memanipulasi hasil pengujian emisi sehingga kendaraan tampak memenuhi standar lingkungan.
Kasus tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk menyembunyikan pelanggaran terhadap regulasi lingkungan apabila pengawasan tidak dilakukan secara ketat.
Riset Kebijakan Lingkungan dan Perilaku Perusahaan
Sebagai peneliti, Sena mengkaji bagaimana kebijakan lingkungan memengaruhi kecenderungan perusahaan melakukan greenwashing.
Dalam penelitiannya, ia menghubungkan beberapa teori penting yang banyak digunakan dalam kajian kebijakan publik dan ekonomi lingkungan.
Porter Hypothesis
Teori ini menjelaskan bahwa regulasi lingkungan yang ketat justru dapat mendorong perusahaan melakukan inovasi teknologi sehingga mampu meningkatkan daya saing sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Artinya, kebijakan yang dirancang secara tepat tidak selalu menjadi beban bagi dunia usaha, melainkan dapat menjadi pendorong inovasi.
Pollution Haven Theory
Sebaliknya, teori ini menjelaskan bahwa perusahaan cenderung memindahkan aktivitas produksi ke wilayah dengan regulasi lingkungan yang lebih longgar agar biaya operasional menjadi lebih rendah.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menciptakan regulasi yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.
Studi Kasus di Indonesia
Sena juga memanfaatkan data sanksi dari KLHK untuk mengidentifikasi perusahaan yang berpotensi melakukan greenwashing. Analisis tersebut kemudian dibandingkan dengan klaim keberlanjutan yang dipublikasikan perusahaan melalui situs web maupun laporan keberlanjutan.
Pendekatan ini memberikan gambaran mengenai kesenjangan antara komunikasi perusahaan dan kondisi nyata di lapangan.
Kehidupan Akademik di Oregon
Selain membahas riset, Sena juga menceritakan pengalaman hidup selama menempuh pendidikan di Oregon.
Wilayah ini dikenal memiliki kekayaan alam yang luar biasa dengan berbagai destinasi pegunungan, hutan, dan kawasan konservasi. Bagi pecinta aktivitas luar ruangan, Oregon menawarkan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat sekaligus kesadaran tinggi terhadap pelestarian alam.
Di kawasan pantai barat Amerika Serikat, termasuk Oregon dan California, kebijakan lingkungan juga dikenal lebih ketat dibandingkan beberapa wilayah lainnya. Kondisi tersebut menjadi laboratorium nyata bagi penelitian kebijakan publik di bidang lingkungan.
Tips Lolos Beasiswa Fulbright

Sena turut membagikan pengalaman sebagai penerima beasiswa Fulbright yang menjadi salah satu program beasiswa paling bergengsi di dunia.
Menurutnya, keberhasilan memperoleh beasiswa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga konsistensi dalam mempersiapkan diri.
Empat Kunci Persiapan
Persiapan dimulai dari niat yang kuat. Sena bahkan menyarankan calon pelamar membuat tabulasi berbagai peluang beasiswa menggunakan spreadsheet agar proses persiapan menjadi lebih terarah.
Selain itu, doa, usaha melalui peningkatan kemampuan bahasa Inggris dan tes seperti TOEFL maupun GRE, serta persistensi menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan.
Memahami Proses Seleksi
Proses seleksi Fulbright memerlukan waktu cukup panjang. Pendaftaran umumnya dibuka pada Februari, kemudian dilanjutkan dengan seleksi administrasi, wawancara, tes diagnostik, hingga penempatan universitas oleh AMINEF.
Karena prosesnya dapat berlangsung hampir satu tahun, calon pelamar perlu menyiapkan dokumen sejak jauh hari.
Budaya Akademik di Amerika Serikat
Sena menekankan bahwa pendidikan tinggi di Amerika Serikat sangat menekankan kemampuan berpikir kritis.
Mahasiswa tidak cukup hanya merangkum teori atau menghafal materi. Mereka dituntut mampu membangun argumen, mengembangkan gagasan baru, serta menyampaikan solusi berdasarkan data dan analisis ilmiah.
Kemampuan komunikasi juga dinilai dari kualitas ide dan logika berpikir, bukan sekadar kelancaran berbicara atau aksen bahasa Inggris.
Inovasi Lokal dan Peluang Kolaborasi
Diskusi berlangsung semakin menarik ketika peserta turut membagikan berbagai inovasi yang telah dikembangkan di Indonesia.
Prof. Sutarto Hadi mengangkat topik pengolahan limbah plastik menggunakan mikroorganisme sebagai peluang pengembangan riset bersama. Sementara itu, Jamaludin dari Purwokerto mempresentasikan inovasi pengolahan sampah organik menjadi paving blok serta teknologi pemurnian air limbah hingga layak dikonsumsi.
Berbagai inovasi tersebut memperoleh apresiasi karena menunjukkan bahwa solusi lingkungan dapat lahir dari daerah dengan memanfaatkan potensi lokal. Kolaborasi antara peneliti Indonesia di luar negeri dan akademisi dalam negeri diharapkan mampu mempercepat pengembangan teknologi yang lebih aplikatif.
Kesimpulan
Diskusi bersama Sena Pradipta menunjukkan bahwa isu lingkungan tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga integritas, kebijakan publik, dan kolaborasi lintas negara. Greenwashing menjadi tantangan yang perlu diwaspadai karena dapat mengaburkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan.
Di sisi lain, pengalaman Sena sebagai penerima Fulbright membuktikan bahwa peluang belajar di luar negeri terbuka bagi siapa saja yang memiliki persiapan matang, ketekunan, dan semangat belajar. Kolaborasi riset antara diaspora Indonesia dan akademisi di Tanah Air menjadi langkah strategis untuk menghadirkan inovasi yang mampu menjawab berbagai persoalan lingkungan di masa depan.