Kebumen, Kampus Times- Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia Wati (KB PII Wati) Wilayah Yogyakarta Besar menyelenggarakan Seminar Parenting Islami dalam rangka HARBA PII Wati di Aula BRIN Karang Sambung, Kebumen, Minggu (2/8/2026). Mengusung tema "Redefinisi Peran Ibu Modern dan Ekosistem Sosial untuk Membangun Bonding Keluarga di Era Modern Perspektif Islam dan Psikologi Pendidikan Islam", kegiatan ini mengajak para orang tua memperkuat peran keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak.
Seminar menghadirkan Prof. Dr. Azam Syukur Rahmatullah, S.H.I., M.S.I., M.A., M.Psi., Founder Yayasan Bina Cinta Keluarga Kebumen, Pimpinan Pondok Pesantren Al Kamal Tambaksari Kuwarasan, Guru Besar Psikologi Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), sekaligus Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Kebumen.
Dalam paparannya, Prof. Azam menegaskan bahwa membangun generasi yang saleh dan berkarakter tidak dimulai dari sekolah atau lingkungan luar, melainkan dari keluarga. Menurutnya, bonding atau kelekatan emosional antara orang tua dan anak menjadi rahasia utama terciptanya keluarga yang harmonis sekaligus melahirkan generasi yang sehat, beriman, dan berakhlak mulia.
Bonding Keluarga Menjadi Kunci Pembentukan Karakter
Prof. Azam menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar keluarga di era modern adalah semakin renggangnya hubungan emosional antara orang tua dan anak. Kesibukan orang tua, penggunaan gawai, serta media sosial membuat waktu kebersamaan keluarga semakin berkurang.
Akibatnya, anak lebih banyak berinteraksi dengan layar dibandingkan dengan keluarganya sendiri. Padahal, berbagai persoalan perilaku anak sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya fasilitas, tetapi karena lemahnya bonding di dalam keluarga.
Menurutnya, bonding merupakan ikatan emosional yang tumbuh melalui perhatian, kasih sayang, komunikasi hangat, pelukan, penghargaan, serta doa yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Hubungan tersebut akan membangun rasa aman (secure attachment) yang menjadi fondasi penting bagi perkembangan kepribadian anak.
Peran Ibu sebagai Madrasah Pertama
Dalam seminar tersebut, Prof. Azam juga menekankan bahwa seorang ibu memiliki posisi yang sangat strategis sebagai madrasah pertama bagi anak. Selain mendidik, ibu berperan membimbing emosi, membentuk karakter, sekaligus menanamkan nilai-nilai keimanan sejak usia dini.
Ia juga mengajak para peserta melihat persoalan anak secara lebih utuh. Menurutnya, perilaku anak sering kali merupakan cerminan kondisi keluarga. Komunikasi yang kurang baik, minimnya perhatian, penggunaan gadget yang tidak terkontrol, hingga konflik orang tua di hadapan anak dapat memengaruhi perkembangan psikologis maupun spiritual anak.
Lima Pilar Bonding Keluarga

Sebagai solusi, Prof. Azam memperkenalkan Lima Pilar Bonding Keluarga, yaitu bonding spiritual, bonding emosional, bonding komunikasi, bonding keteladanan, dan bonding digital.
Kelima pilar tersebut dapat diwujudkan melalui kebiasaan sederhana, seperti salat berjamaah, membaca Al-Qur'an bersama, mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, makan bersama tanpa gangguan gawai, memberikan teladan yang baik, serta memanfaatkan teknologi secara bijaksana sebagai sarana pendidikan, bukan sebagai penghalang kedekatan keluarga.
Pada akhir seminar, Prof. Azam juga membagikan sejumlah langkah praktis yang dapat diterapkan orang tua, mulai dari membiasakan memeluk anak, mengungkapkan kasih sayang setiap hari, memberikan apresiasi atas usaha anak, tidak membandingkan anak dengan orang lain, meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga tanpa telepon genggam, hingga senantiasa mendoakan anak setelah menunaikan salat.
Komitmen Membangun Ketahanan Keluarga
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Yayasan Bina Cinta Keluarga Kebumen dalam memperkuat ketahanan keluarga melalui edukasi parenting berbasis nilai-nilai Islam dan psikologi pendidikan.
Melalui seminar ini, diharapkan semakin banyak keluarga mampu membangun hubungan yang hangat, penuh kasih sayang, dan saling mendukung sehingga melahirkan generasi yang beriman, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan zaman.
Kesimpulan
Seminar Parenting Islami yang diselenggarakan KB PII Wati menjadi pengingat bahwa keluarga merupakan sekolah pertama bagi setiap anak. Bonding yang kuat, komunikasi yang sehat, dan keteladanan orang tua menjadi modal utama dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter, akhlak, dan ketahanan mental untuk menghadapi perkembangan zaman.
FAQ
1. Siapa narasumber Seminar Parenting Islami KB PII Wati? Prof. Dr. Azam Syukur Rahmatullah, Founder Yayasan Bina Cinta Keluarga Kebumen, Guru Besar Psikologi Pendidikan UMY, sekaligus Anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Kebumen.
2. Apa tema seminar yang diselenggarakan KB PII Wati? Redefinisi Peran Ibu Modern dan Ekosistem Sosial untuk Membangun Bonding Keluarga di Era Modern Perspektif Islam dan Psikologi Pendidikan Islam.
3. Apa yang dimaksud bonding keluarga menurut Prof. Azam? Bonding keluarga adalah ikatan emosional yang dibangun melalui kasih sayang, komunikasi, perhatian, keteladanan, dan kebersamaan sehingga menjadi fondasi pembentukan karakter anak.
4. Apa saja Lima Pilar Bonding Keluarga yang diperkenalkan? Bonding spiritual, bonding emosional, bonding komunikasi, bonding keteladanan, dan bonding digital.
5. Apa tujuan diselenggarakannya seminar ini? Memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya memperkuat hubungan keluarga sebagai fondasi membangun generasi yang saleh, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan era digital.