Akademik & Riset

Blue Hydrogen Jadi Solusi Transisi Energi? Pelajaran dari Riset Diaspora Indonesia di UConn

5 Agustus 2026, 08:42 WIB / Aji Krisna Bayu
Blue Hydrogen Jadi Solusi Transisi Energi? Pelajaran dari Riset Diaspora Indonesia di UConn

Blue Hydrogen Jadi Solusi Transisi Energi? Pelajaran dari Riset Diaspora Indonesia di UConn

Kampus Times- Percepatan transisi energi menjadi salah satu agenda utama berbagai negara dalam menghadapi perubahan iklim. Salah satu teknologi yang semakin banyak mendapat perhatian adalah blue hydrogen atau hidrogen biru, yakni hidrogen yang diproduksi dari gas alam dengan teknologi penangkapan emisi karbon. Topik ini menjadi pembahasan menarik dalam diskusi rutin ke-46 antara Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) dan para diaspora Indonesia di luar negeri.

Narasumber utama, Adrian, mahasiswa PhD di University of Connecticut (UConn), membagikan pengalaman akademik sekaligus hasil risetnya mengenai produksi hidrogen biru yang lebih efisien. Diskusi tersebut tidak hanya mengulas aspek teknologi, tetapi juga peluang penerapannya di Indonesia yang tengah mempercepat agenda transisi energi.

Pengalaman Diaspora Indonesia Menempuh Studi di UConn

Adrian merupakan alumni SMA Negeri 1 Yogyakarta dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang kini menempuh studi doktoral di University of Connecticut. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa sistem pendidikan tinggi di Amerika Serikat memberikan ruang yang jelas antara dosen yang berfokus mengajar dan peneliti yang berfokus menghasilkan inovasi.

Menurutnya, pembagian peran tersebut membuat produktivitas akademik menjadi lebih optimal. Ia menilai model serupa dapat menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi di Indonesia agar beban dosen tidak terlalu kompleks sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus penelitian.

Tantangan Beasiswa Fullbright-Dikti

Selain berbagi pengalaman akademik, Adrian juga menjelaskan proses memperoleh beasiswa Fullbright-Dikti. Program ini menawarkan sistem pendampingan yang sangat baik sejak proses seleksi hingga keberangkatan.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan berupa keterbatasan nominal pendanaan dan durasi studi yang umumnya berlangsung selama skema 3+1 tahun. Karena itu, calon penerima beasiswa perlu memastikan profesor pembimbing memiliki dana riset tambahan agar penelitian dapat berjalan tanpa hambatan.

Blue Hydrogen sebagai Energi Transisi

Salah satu fokus utama penelitian Adrian adalah pengembangan sistem distribusi dan produksi blue hydrogen. Permintaan hidrogen diperkirakan terus meningkat, terutama untuk sektor industri berat, pembangkit listrik, dan transportasi yang sulit dialiri listrik secara langsung.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya proses produksinya. Distribusi hidrogen memerlukan infrastruktur khusus yang sangat mahal karena gas ini harus dikirim melalui jaringan pipa atau sistem penyimpanan bertekanan tinggi.

Akibatnya, biaya logistik sering kali menjadi komponen terbesar dalam harga hidrogen yang diterima konsumen.

Solusi Produksi Hidrogen Terdistribusi

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Adrian mengembangkan konsep distributed hydrogen production atau produksi hidrogen secara terdistribusi.

Konsep ini berbeda dengan pendekatan konvensional yang mengandalkan pabrik besar di satu lokasi. Sebagai gantinya, hidrogen diproduksi menggunakan reaktor berukuran kecil yang ditempatkan langsung di stasiun pengisian bahan bakar.

Model tersebut membuat kebutuhan distribusi menjadi jauh lebih sederhana karena hidrogen diproduksi di lokasi yang sama dengan tempat penggunaannya. Dengan demikian, biaya transportasi dapat ditekan secara signifikan.

Peran Teknologi Chemical Looping

Keunggulan utama pendekatan ini terletak pada penggunaan teknologi chemical looping. Teknologi tersebut memungkinkan proses produksi menghasilkan hidrogen, karbon dioksida, dan nitrogen dalam aliran yang terpisah.

Pemisahan ini memberikan keuntungan besar bagi proses carbon capture atau penangkapan karbon. Konsentrasi karbon dioksida yang lebih tinggi membuat proses penangkapan emisi menjadi lebih mudah dan lebih efisien dibandingkan metode konvensional.

Walaupun biaya produksi per satuan hidrogen berpotensi sedikit lebih tinggi dibandingkan pabrik berskala besar, penghematan pada sisi distribusi mampu membuat harga akhir tetap kompetitif di pasar.

Pendekatan tersebut dinilai sangat relevan untuk mendukung target dekarbonisasi tanpa harus membangun jaringan distribusi hidrogen dalam skala masif.

Peluang Blue Hydrogen di Indonesia

Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan hidrogen biru. Salah satu alasannya adalah keberadaan industri amonia yang telah berkembang selama puluhan tahun. Indonesia bahkan termasuk salah satu produsen pupuk terbesar di dunia.

Sayangnya, produksi amonia saat ini masih menghasilkan emisi karbon yang cukup tinggi. Penggunaan teknologi blue hydrogen berpotensi menekan emisi tersebut sehingga industri pupuk dapat menjadi lebih ramah lingkungan.

Tantangan Infrastruktur Kepulauan

Meskipun memiliki potensi besar, penerapan hidrogen di Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda dengan Amerika Serikat.

Amerika memiliki jaringan pipa gas alam yang luas sehingga distribusi energi relatif mudah dilakukan. Sebaliknya, Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki karakteristik geografis sangat beragam.

Kondisi tersebut membuat pembangunan infrastruktur hidrogen memerlukan strategi yang lebih fleksibel. Model produksi terdistribusi menjadi salah satu alternatif yang dinilai sesuai karena tidak terlalu bergantung pada jaringan distribusi berskala besar.

Indonesia Membutuhkan Diversifikasi Energi

Indonesia Membutuhkan Diversifikasi Energi

KONSULTASI GRATIS SEKARANG

Diskusi juga menegaskan bahwa transisi energi nasional tidak dapat bergantung pada satu jenis energi saja.

Blue hydrogen memang menawarkan prospek yang menjanjikan, tetapi biofuel tetap memiliki keunggulan karena densitas energinya tinggi dan sudah berhasil diterapkan di berbagai sektor transportasi Indonesia.

Gas alam juga masih memiliki peran penting sebagai energi transisi sebelum penggunaan energi terbarukan semakin dominan. Sementara itu, sektor kelistrikan perlu terus didorong menuju dekarbonisasi agar target penurunan emisi nasional dapat tercapai.

Selain pengembangan teknologi, Indonesia juga memerlukan regulasi yang mengatur standar keselamatan penggunaan hidrogen, mulai dari proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi kepada masyarakat.

Kesimpulan

Blue hydrogen menawarkan peluang besar sebagai bagian dari strategi transisi energi menuju ekonomi rendah karbon. Melalui konsep produksi terdistribusi dan pemanfaatan teknologi chemical looping, tantangan biaya distribusi dapat dikurangi sekaligus meningkatkan efisiensi penangkapan emisi karbon.

Bagi Indonesia, pengembangan hidrogen tidak dapat dipisahkan dari kondisi geografis, kesiapan industri, serta kebutuhan diversifikasi energi. Kolaborasi antara akademisi, diaspora, industri, dan pemerintah menjadi kunci agar inovasi yang berkembang di tingkat global dapat diadaptasi menjadi solusi yang sesuai dengan kebutuhan nasional.

FAQ

  1. Apa itu blue hydrogen? ? Blue hydrogen adalah hidrogen yang diproduksi dari gas alam dengan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon sehingga emisi CO? dapat dikurangi.
  2. Apa keunggulan produksi hidrogen terdistribusi? ? Produksi dilakukan dekat lokasi penggunaan sehingga biaya distribusi dan kebutuhan infrastruktur dapat ditekan.
  3. Apa fungsi teknologi chemical looping? ? Teknologi ini memisahkan hidrogen, CO?, dan nitrogen sehingga proses penangkapan karbon menjadi lebih efisien.
  4. Mengapa Indonesia berpeluang mengembangkan blue hydrogen? ? Indonesia memiliki industri amonia dan pupuk yang besar sehingga berpotensi memanfaatkan teknologi hidrogen untuk mengurangi emisi karbon.
  5. Apakah blue hydrogen akan menggantikan biofuel? ? Tidak. Blue hydrogen dipandang sebagai pelengkap dalam bauran energi karena Indonesia tetap memerlukan diversifikasi energi sesuai kebutuhan tiap sektor.

Sumber : https://www.youtube.com/live/79aCxoBbAR4?si=C0p0B3xFXPBx6Os7

Topik Terkait

Trending Hari Ini