Jombang, Kampus Times - Mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini menjadi salah satu langkah penting untuk membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengenalkan pengelolaan sampah melalui kegiatan yang dekat dengan dunia anak, yakni belajar sambil berkarya.
Pendekatan tersebut diterapkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran dan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas KH.A. Wahab Hasbullah Tambakberas Jombang melalui kegiatan pemanfaatan limbah botol plastik menjadi gantungan kunci. Program yang berlangsung pada Juli–Agustus 2026 ini dilaksanakan di SD Negeri Munungkerep 3, Desa Munungkerep, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Kegiatan melibatkan Dwi Kartika Sari, Muhimmatul Aliyah, Nabila Oktaviani, dan Wahdania Zawida. Program tersebut mengangkat tema kepedulian lingkungan sekaligus pemberdayaan produktivitas masyarakat melalui edukasi dan praktik kreatif.
Mengajarkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini
Sampah plastik masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian. Di tengah keterbatasan sistem pengelolaan sampah, sebagian masyarakat masih membuang atau membakar sampah plastik.
Kondisi tersebut menjadi alasan penting untuk memperkenalkan edukasi lingkungan kepada anak-anak. Siswa sekolah dasar tidak hanya perlu mengetahui bahwa sampah dapat mencemari lingkungan, tetapi juga perlu memperoleh pengalaman langsung mengenai cara mengurangi dan memanfaatkan kembali sampah.
Berdasarkan observasi, siswa SD Negeri Munungkerep 3 telah memiliki pengetahuan dasar mengenai pentingnya menjaga kebersihan. Namun, mereka belum mendapatkan pengalaman mengolah limbah plastik menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Botol Plastik Diubah Menjadi Produk Kreatif
Program dirancang untuk mengenalkan prinsip 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle. Ketiga prinsip tersebut diperkenalkan melalui aktivitas yang sederhana dan menyenangkan agar lebih mudah dipahami siswa.
Alih-alih hanya memberikan materi secara teoritis, mahasiswa mengajak siswa terlibat langsung dalam proses pembuatan gantungan kunci. Limbah botol plastik yang sebelumnya tidak memiliki nilai guna kemudian diubah menjadi karya kreatif yang dapat digunakan.
Belajar Melalui Praktik Langsung
Tahapan kegiatan diawali dengan observasi dan penyusunan program, kemudian dilanjutkan sosialisasi kepada pihak sekolah. Mahasiswa selanjutnya memberikan materi mengenai kebersihan lingkungan, dampak sampah plastik, serta pentingnya mendaur ulang sampah.
Setelah materi disampaikan, siswa mengikuti demonstrasi dan praktik pembuatan gantungan kunci. Mereka dibagi dalam kelompok-kelompok kecil sehingga proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih intensif.
Bahan dan alat yang digunakan relatif sederhana, antara lain botol plastik bekas, kardus, gunting, ring gantungan kunci, manik-manik, bendrat, tang, setrika, dan lilin.
Kreativitas Siswa Berkembang Melalui Daur Ulang
Dalam proses pembuatan, botol plastik terlebih dahulu dipotong dan dibentuk menyerupai bunga menggunakan pola dari kardus. Bagian tersebut kemudian dibentuk menggunakan setrika dengan alas baking paper sehingga menghasilkan lekukan pada kelopak.
Bagian tengah bunga selanjutnya dilubangi menggunakan bendrat yang dipanaskan. Setelah itu, siswa menghias bagian tengah menggunakan manik-manik dan merangkainya pada ring gantungan kunci.
Proses tersebut memberikan pengalaman baru bagi siswa. Mereka tidak hanya belajar mengenali jenis sampah, tetapi juga memahami bahwa benda yang dianggap tidak berguna dapat diolah menjadi produk yang memiliki fungsi.
Membentuk Kebiasaan Positif
Kegiatan kreatif seperti ini dapat menjadi sarana untuk menanamkan karakter peduli lingkungan. Siswa belajar bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dilakukan melalui kegiatan yang kompleks.
Melalui praktik sederhana, mereka dapat memahami bahwa mengurangi penggunaan barang sekali pakai, menggunakan kembali benda yang masih dapat dimanfaatkan, dan mendaur ulang sampah merupakan tindakan yang dapat dimulai dari lingkungan sekolah maupun rumah.
Siswa Antusias Mengikuti Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan mendapatkan respons positif dari siswa. Mereka terlihat antusias dan aktif mengikuti setiap tahapan, mulai dari penyampaian materi hingga proses pembuatan gantungan kunci.
Selain memperoleh pengetahuan mengenai dampak sampah plastik, siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam mengubah limbah menjadi produk yang bermanfaat. Aktivitas tersebut juga memberikan ruang untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan motorik.
Gantungan kunci hasil karya kemudian diberikan kepada masing-masing siswa sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi mereka dalam kegiatan.
Masih Ada Kendala dalam Pelaksanaan

Meskipun berjalan dengan baik, pelaksanaan kegiatan masih menghadapi sejumlah kendala. Pengondisian siswa belum sepenuhnya optimal sehingga suasana kelas sempat kurang kondusif.
Ketersediaan perlengkapan dan alat juga belum sepenuhnya memadai. Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan berikutnya agar persiapan alat dan bahan dapat dilakukan lebih matang.
Pendampingan yang lebih intensif dan pengondisian peserta sejak awal juga diperlukan. Dengan persiapan yang lebih baik, kegiatan serupa dapat berjalan lebih efektif dan memberikan pengalaman belajar yang maksimal bagi siswa.
Berpotensi Menjadi Program Berkelanjutan
Kegiatan pemanfaatan botol plastik memiliki peluang keberlanjutan yang cukup besar karena mendapat dukungan pihak sekolah dan menggunakan bahan yang relatif mudah ditemukan.
Program dapat dikembangkan menjadi bagian dari pembelajaran berbasis proyek atau Project Based Learning (PjBL). Selain itu, kegiatan dapat diintegrasikan dengan ekstrakurikuler maupun program lingkungan sekolah.
Dari Gantungan Kunci ke Produk Lain
Kreativitas siswa tidak harus berhenti pada pembuatan gantungan kunci. Guru dan sekolah dapat mengembangkan kegiatan serupa dengan menghasilkan tempat pensil, pot tanaman, hiasan kelas, maupun berbagai produk kreatif lainnya.
Dengan variasi kegiatan tersebut, prinsip 3R dapat diperkenalkan secara berulang sehingga berpeluang berkembang menjadi kebiasaan. Sekolah juga dapat menjadikan hasil karya siswa sebagai bagian dari kampanye kepedulian lingkungan.
Kesimpulan
Kegiatan pemanfaatan limbah botol plastik menjadi gantungan kunci yang dilaksanakan mahasiswa KKN-PPM Universitas KH.A. Wahab Hasbullah di SD Negeri Munungkerep 3 menunjukkan bahwa edukasi lingkungan dapat disampaikan secara menarik melalui pembelajaran berbasis praktik.
Kegiatan tersebut tidak hanya mengenalkan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle, tetapi juga mendorong kreativitas, keterampilan motorik, serta karakter peduli lingkungan pada siswa. Dengan dukungan sekolah dan pengembangan kegiatan secara berkelanjutan, edukasi pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari kebiasaan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Dosen Pembimbing Lapangan:
Aufia Aisa, M.Pd.I.
NUPTK. 3746768669230412
FAQ
- Apa tujuan kegiatan pemanfaatan botol plastik ini? Kegiatan bertujuan meningkatkan kesadaran lingkungan, kreativitas, dan keterampilan siswa melalui praktik daur ulang limbah plastik.
- Siapa peserta kegiatan tersebut? Peserta kegiatan adalah siswa SD Negeri Munungkerep 3, Desa Munungkerep, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang.
- Apa produk yang dibuat dari botol plastik bekas? Siswa membuat gantungan kunci berbentuk bunga dengan memanfaatkan bagian botol plastik dan berbagai bahan pendukung.
- Apa prinsip lingkungan yang dikenalkan kepada siswa? Kegiatan mengenalkan prinsip 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle.
- Apakah kegiatan ini dapat dikembangkan lebih lanjut? Ya. Sekolah dapat mengembangkannya menjadi pembelajaran berbasis proyek, ekstrakurikuler, atau program lingkungan dengan membuat berbagai produk daur ulang lainnya.