Life & Campus

Menjaga Hati di Era Digital, QS Asy-Syu'ara Ungkap Bekal Terpenting Menuju Keselamatan

3 Agustus 2026, 10:43 WIB / Tutut Septia Wati
Sumber gambar hasil AI

Sumber gambar hasil AI

Kendari, Kampus Times- Kemajuan teknologi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Namun di balik perkembangan tersebut, tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan menjaga kebersihan hati. Pesan inilah yang disampaikan Dr. H. Muh. Ikhsan AR., M.Ag., Akademisi UIN Kendari dan Maheswara Utama PIP BPIP RI, melalui refleksi terhadap QS. Asy-Syu'ara ayat 88–89.

Menurutnya, Al-Qur'an mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan manusia di hadapan Allah bukanlah harta, jabatan, keturunan, maupun popularitas. Keselamatan sejati hanya dimiliki oleh mereka yang datang kepada Allah dengan qalbun salim, yakni hati yang bersih, sehat, dan terbebas dari penyakit spiritual.

Qalbun Salim, Bekal Terbaik Menuju Akhirat

QS. Asy-Syu'ara ayat 88–89 berbunyi:

"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih (qalbun salim)." (QS. Asy-Syu'ara: 88–89)

Ayat tersebut merupakan bagian dari doa Nabi Ibrahim AS yang memohon keselamatan pada Hari Kiamat. Setelah memohon hikmah, amal saleh, nama baik, dan kenikmatan surga, puncak permohonannya adalah keselamatan melalui hati yang bersih.

Makna ini menunjukkan bahwa seluruh simbol kesuksesan dunia akan kehilangan nilainya ketika manusia menghadap Allah. Yang tersisa hanyalah kualitas iman, keikhlasan, dan kebersihan hati.

Makna Qalbun Salim Menurut Para Ulama

Secara bahasa, kata salim berasal dari akar kata yang berarti selamat, utuh, dan bersih. Karena itu, qalbun salim dimaknai sebagai hati yang dipenuhi tauhid, ikhlas dalam beribadah, bebas dari syirik, iri hati, dengki, kesombongan, maupun riya.

Imam Al-Tabari menjelaskan bahwa qalbun salim adalah hati yang terbebas dari kemusyrikan dan kemunafikan. Senada dengan itu, Ibnu Katsir menyebut hati yang bersih sebagai hati yang hanya mengabdi kepada Allah dan tidak menyimpan kebencian terhadap kebenaran.

Sementara Al-Qurthubi memperluas maknanya sebagai hati yang terbebas dari berbagai penyakit batin, termasuk cinta dunia yang berlebihan dan dendam terhadap sesama.

Hadis Menegaskan Pentingnya Menjaga Hati

Makna qalbun salim juga ditegaskan Rasulullah SAW melalui sabdanya:

"Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim).

Hadis tersebut memperlihatkan bahwa hati menjadi pusat seluruh perilaku manusia sekaligus ukuran utama dalam penilaian Allah SWT.

Relevansi Qalbun Salim di Era Digital

Dr. Muh. Ikhsan AR menjelaskan bahwa pesan QS. Asy-Syu'ara semakin relevan pada era digital. Media sosial sering mendorong manusia mengejar popularitas, pencitraan, serta pengakuan publik. Padahal, Al-Qur'an justru mengingatkan bahwa yang dinilai Allah adalah kebersihan hati, bukan jumlah pengikut atau apresiasi di dunia maya.

Nilai qalbun salim juga menjadi fondasi etika digital. Pengguna internet dituntut menghindari hoaks, fitnah, ujaran kebencian, maupun perundungan siber karena seluruh aktivitas digital tetap memiliki konsekuensi moral.

Dalam perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), teknologi memang mampu membantu manusia mengolah data dan menyelesaikan berbagai pekerjaan. Namun AI tidak memiliki hati nurani. Oleh sebab itu, penggunaan teknologi harus selalu dikendalikan oleh manusia yang memiliki integritas, empati, dan tanggung jawab moral.

Fondasi Pendidikan, Kepemimpinan, dan Keluarga

Fondasi Pendidikan, Kepemimpinan, dan Keluarga

KONSULTASI GRATIS SEKARANG

Qalbun salim juga memiliki peran penting dalam dunia pendidikan. Ilmu pengetahuan yang tidak dibimbing oleh hati yang bersih berpotensi melahirkan kesombongan, manipulasi data, maupun penyalahgunaan ilmu. Sebaliknya, hati yang sehat akan menjaga kejujuran akademik dan tanggung jawab ilmiah.

Dalam kepemimpinan, hati yang bersih membuat seseorang memandang jabatan sebagai amanah, bukan alat memperkaya diri atau mempertahankan kekuasaan.

Nilai tersebut juga menjadi fondasi kehidupan keluarga. Orang tua tidak hanya bertugas mewariskan harta kepada anak-anaknya, tetapi juga menanamkan iman, akhlak, serta kebersihan hati sebagai bekal menjalani kehidupan.

Nilai Pendidikan dari QS. Asy-Syu'ara

Dr. Muh. Ikhsan AR merangkum sejumlah nilai pendidikan yang terkandung dalam ayat tersebut, di antaranya tauhid sebagai fondasi kehidupan, pentingnya keikhlasan, pembentukan akhlak mulia, integritas yang lebih bernilai daripada popularitas, serta perlunya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dalam kehidupan sehari-hari.

Teknologi, ilmu pengetahuan, dan kemajuan peradaban akan memberi manfaat apabila dipimpin oleh manusia yang memiliki hati bersih dan orientasi hidup yang benar.

Kesimpulan

QS. Asy-Syu'ara ayat 88–89 mengingatkan bahwa harta, jabatan, popularitas, dan keturunan bukanlah penentu keselamatan manusia di hadapan Allah. Bekal terbaik adalah qalbun salim, yaitu hati yang dipenuhi tauhid, keikhlasan, kejujuran, dan akhlak mulia. Di tengah derasnya arus digital dan perkembangan teknologi, menjaga kebersihan hati menjadi kunci agar ilmu, teknologi, dan kehidupan tetap berjalan dalam koridor nilai-nilai kemanusiaan dan ketakwaan.

FAQ

1. Apa yang dimaksud qalbun salim? Hati yang bersih, sehat, ikhlas, dan terbebas dari syirik serta penyakit hati.

2. Mengapa QS. Asy-Syu'ara ayat 88–89 penting? Karena menegaskan bahwa keselamatan di akhirat ditentukan oleh kebersihan hati, bukan harta atau keturunan.

3. Apa relevansi qalbun salim di era digital? Menjadi pedoman agar penggunaan media sosial dan teknologi tetap berlandaskan etika, kejujuran, dan tanggung jawab.

4. Bagaimana menjaga hati tetap bersih? Dengan memperkuat tauhid, memperbanyak muhasabah, menjauhi iri dan kesombongan, serta memperbaiki akhlak setiap hari.

5. Mengapa AI perlu dikendalikan oleh hati nurani? Karena AI hanya mengolah informasi, sedangkan manusia bertanggung jawab menentukan nilai moral dalam penggunaannya.

Topik Terkait

Trending Hari Ini