Malang, Kampus Times - Program Studi Doktor Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Malang (UM), menggelar ujian tertutup disertasi atas nama Rofikha Nuriyanti pada 10 Agustus 2026. Ujian berlangsung pukul 15.00–17.00 dengan menghadirkan dewan penguji dan tim promotor.
Rofikha mengangkat disertasi berjudul “Passionate Leadership Berbasis Konstruk Nilai Sosial Kultural Sekolah dalam Mewujudkan Kinerja Mengajar Guru pada Satuan Pendidikan Islam (Studi Multikasus SDIT Permata Probolinggo, SD Integral Hidayatullah Probolinggo, MI Muhammadiyah I Kota Probolinggo, dan MI KAHASRI Kota Probolinggo)”.
Dalam penyelesaian disertasinya, Rofikha dibimbing Prof. Dr. Ali Imron, M.Pd., M.Si. sebagai Promotor 1, Dr. Mustiningsih, M.Pd. sebagai Promotor 2, dan Prof. Dr. Raden Bambang Sumarsono, M.Pd. sebagai Promotor 3.
Dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. Hj. Rifa Hidayah, S.Ag., S.Psi., M.Si., Psikolog sebagai penguji tamu dari UIN Malang, Prof. Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd. sebagai penguji bidang pendidikan sekaligus Koordinator Program Studi S2/S3 Manajemen Pendidikan, serta Prof. Dr. Hj. Nurul Ulfatin, M.Pd. sebagai penguji bidang studi.
Sidang dipimpin Dr. Ahmad Yusuf Sobri, S.Sos., M.Pd., Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.
Meneliti Kepemimpinan yang Berakar pada Nilai

Penelitian Rofikha berangkat dari pemikiran bahwa kinerja mengajar guru pada satuan pendidikan Islam tidak dapat dipahami sebatas kelengkapan administrasi dan penyampaian materi pembelajaran.
Kinerja guru mencakup perencanaan pembelajaran, interaksi pedagogis, pengelolaan kelas, asesmen dan tindak lanjut, refleksi, kolaborasi, keteladanan, hingga integrasi nilai-nilai Islam dalam proses pendidikan.
Atas dasar tersebut, penelitian memusatkan perhatian pada passionate leadership, yang dimaknai sebagai praktik kepemimpinan yang digerakkan kecintaan terhadap pendidikan, visi yang bermakna, komitmen moral, energi positif, ketekunan, kepedulian, keteladanan, dan orientasi pelayanan.
Menariknya, passion pemimpin dalam penelitian ini tidak ditempatkan sebagai energi personal semata. Arah dan maknanya diperoleh dari konstruk nilai sosial kultural yang hidup dalam lingkungan sekolah.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi multikasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis melalui analisis dalam kasus dan analisis lintas kasus.
Empat Konfigurasi Passionate Leadership
Sistemik-Partisipatif pada Sekolah Berafiliasi JSIT
Pada sekolah yang berafiliasi dengan JSIT, passionate leadership membentuk konfigurasi sistemik-partisipatif.
Praktiknya terlihat melalui struktur organisasi, pembagian peran, koordinasi, supervisi bersama, pembinaan rutin, pengambilan keputusan partisipatif, serta penguatan layanan kepada siswa dan wali murid.
Tauhid-Relasional pada Sekolah Hidayatullah
Pada sekolah yang berafiliasi dengan Hidayatullah, ditemukan konfigurasi tauhid-relasional.
Kepemimpinan tercermin melalui keteladanan ibadah, tabayyun, pemberian kepercayaan, kenyamanan kerja, pembinaan ruhiyah, supervisi, serta penerapan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid.
Adaptif-Organisasional pada Sekolah Muhammadiyah
Pada sekolah yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, passionate leadership berkembang dalam konfigurasi adaptif-organisasional.
Pendekatan personal, kerendahan hati, komunikasi yang hati-hati, keteladanan disiplin, supervisi, serta koordinasi dengan Majelis Dikdasmen menjadi bagian dari praktik kepemimpinan.
Komunal-Resilien pada Sekolah Berbasis Kultur NU
Sementara itu, pada sekolah yang berakar pada kultur Nahdlatul Ulama, penelitian menemukan konfigurasi komunal-resilien.
Daya juang, khidmah, kekeluargaan, dukungan terhadap pelatihan dan kreativitas guru, orientasi prestasi, serta penggerakan wali murid dan komunitas menjadi kekuatan dalam menghadapi keterbatasan sumber daya.
Nilai Sosial Kultural Tidak Berhenti sebagai Simbol
Salah satu temuan lintas kasus penelitian menunjukkan bahwa nilai sosial kultural merupakan susunan makna bersama yang terbentuk dari ajaran Islam, sejarah lembaga, ideologi organisasi, pedoman yayasan, ritual, simbol, bahasa, kebiasaan, pola komunikasi, dan pengalaman kolektif.
Nilai tersebut tidak berhenti sebagai identitas formal sekolah. Sebaliknya, nilai berfungsi sebagai sumber arah, legitimasi, bahasa bersama, motivasi, kontrol sosial, sekaligus batas etis dalam praktik kepemimpinan.
Nilai kemudian diterjemahkan melalui keteladanan, pembinaan, pembiasaan, supervisi dialogis, evaluasi, kerja kolegial, dokumen kelembagaan, interaksi dengan siswa, serta komunikasi dengan wali murid.
Dari proses tersebut, kinerja mengajar guru dipahami sebagai kesatuan dimensi administratif, pedagogis, sosial, dan spiritual.
Passionate leadership berbasis nilai sosial kultural juga berkontribusi terhadap tumbuhnya tanggung jawab, semangat mengajar, kedisiplinan, keberanian berinovasi, keterbukaan terhadap refleksi, kolaborasi, konsistensi layanan, dan penguatan identitas profesional guru.
Dari Pengalaman Akademik Menuju Kajian Kepemimpinan Pendidikan
Perjalanan akademik dan profesional Rofikha Nuriyanti juga memiliki keterkaitan dengan isu kepemimpinan dan pengelolaan pendidikan yang dikaji dalam disertasinya.
Karier akademiknya dimulai di Universitas Panca Marga. Pada 2013, Rofikha mulai mengajar sebagai dosen non-tetap pada Program Studi Ekonomi Manajemen. Dua tahun kemudian, pada Juli 2015, ia diangkat sebagai dosen tetap dan memperoleh Nomor Induk Dosen Nasional.
Dalam perkembangan berikutnya, Rofikha mengabdi di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dengan homebase pada Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Ia juga turut mengajar pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Pengalaman tersebut kemudian berkembang ke ranah pengelolaan kelembagaan. Rofikha memperoleh amanah sebagai Sekretaris Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran, sebelum dipercaya memimpin lembaga tersebut sebagai ketua pada periode 2016–2021.
Pada 2021, ia kembali mendapat amanah sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Panca Marga.
Jejak pengalaman sebagai dosen sekaligus pengelola pendidikan memberikan konteks yang relevan terhadap perhatian akademiknya pada kepemimpinan, organisasi, pembelajaran, dan pengembangan kualitas pendidikan.
Menghasilkan Konstruk Model Passionate Leadership

Penelitian Rofikha tidak berhenti pada deskripsi praktik kepemimpinan di empat sekolah. Studi tersebut juga menghasilkan konstruk model passionate leadership berbasis nilai sosial kultural dalam mewujudkan kinerja mengajar guru.
Melalui studi multikasus, penelitian memperlihatkan bahwa nilai sosial kultural menjadi sumber orientasi bagi passionate leadership. Nilai tersebut kemudian diterjemahkan dalam praktik kepemimpinan dan kehidupan profesional guru hingga menopang mutu sekolah.
Temuan ini memberikan implikasi bagi kepala sekolah untuk mengembangkan passionate leadership secara seimbang antara kedekatan personal dan profesional. Pemimpin juga perlu menetapkan standar kinerja yang jelas, menjalankan supervisi dialogis dengan umpan balik dan tindak lanjut, serta membangun sistem pembinaan guru yang terarah dan terdokumentasi.
Bagi pengembangan keilmuan Manajemen Pendidikan, penelitian tersebut memberikan perspektif bahwa kepemimpinan sekolah perlu dibaca secara kontekstual.
Passion seorang pemimpin tidak berdiri sendiri sebagai energi personal, tetapi memperoleh arah dan makna dari nilai sosial kultural yang hidup dalam organisasi pendidikan.
Relevansi bagi Pendidikan Islam
Temuan penelitian Rofikha memiliki relevansi bagi pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Sekolah membutuhkan pemimpin yang bukan hanya mampu menjalankan fungsi manajerial, tetapi juga mampu membangun visi, memberikan keteladanan, menjaga integritas, dan menggerakkan guru melalui nilai yang diyakini bersama.
Dalam konteks tersebut, nilai sosial kultural dapat menjadi kekuatan organisasi apabila diterjemahkan ke dalam perilaku dan sistem kerja. Nilai yang hanya menjadi slogan tidak akan memberikan dampak yang sama dengan nilai yang diwujudkan melalui kebijakan, keteladanan, komunikasi, pembinaan, dan evaluasi.
Dengan demikian, kepemimpinan pendidikan masa kini membutuhkan perpaduan antara kompetensi manajerial, kemampuan membangun relasi, integritas moral, serta kepekaan terhadap konteks sosial dan budaya sekolah.
Kesimpulan
Ujian tertutup disertasi Rofikha Nuriyanti di Universitas Negeri Malang mengangkat kajian penting mengenai hubungan passionate leadership, nilai sosial kultural, dan kinerja mengajar guru pada satuan pendidikan Islam.
Studi multikasus pada empat sekolah di Probolinggo menemukan empat konfigurasi kepemimpinan, yaitu sistemik-partisipatif, tauhid-relasional, adaptif-organisasional, dan komunal-resilien. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan pendidikan berkembang mengikuti nilai, sejarah, karakter kelembagaan, dan budaya organisasi masing-masing sekolah.
Penelitian ini sekaligus menghasilkan konstruk model passionate leadership berbasis nilai sosial kultural. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa passion seorang pemimpin akan memiliki daya transformasi lebih kuat ketika diarahkan oleh nilai bersama dan diterjemahkan ke dalam praktik profesional.
Bagi pendidikan Islam, pesan penting dari penelitian ini adalah bahwa peningkatan kualitas guru tidak hanya membutuhkan sistem dan standar kerja, tetapi juga kepemimpinan yang mampu menghadirkan keteladanan, kepedulian, visi, dan budaya organisasi yang bermakna.