Malang, Kampus Times - Mahasiswa Program Studi S1 Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang (UM), Septiani Cahyaning Putri, mengkaji pengelolaan Program PASCH dalam mendukung kesejahteraan dan perkembangan peserta didik.
Kajian tersebut dituangkan dalam skripsi berjudul “Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran Interkultural Program PASCH dalam Mewujudkan Student Wellbeing (Studi Kasus di SMA Negeri 5 Malang)”.
Ujian dan sidang skripsi dilaksanakan pada Senin, 10 Agustus 2026, pukul 13.00–14.30 WIB. Dalam sidang tersebut, Septiani mempresentasikan hasil penelitian di hadapan Prof. Dr. Raden Bambang Sumarsono, M.Pd. selaku penguji utama dan Dr. Ahmad Nurabadi, M.Pd. sebagai penguji kedua.
Penelitian tersebut dibimbing oleh Dr. Sunarni, S.Pd., M.Pd.
Mengkaji Program PASCH dari Perspektif Student Wellbeing
Penelitian Septiani berangkat dari keberadaan Program PASCH (Schulen: Partner der Zukunft) di SMA Negeri 5 Malang. Program tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai sarana pembelajaran bahasa Jerman, tetapi juga dikembangkan menjadi ruang pembelajaran interkultural.
Melalui program tersebut, siswa memperoleh pengalaman belajar yang mempertemukan aspek kebahasaan dengan pemahaman budaya. Berbagai kegiatan memungkinkan peserta didik mengenal perspektif budaya Indonesia dan Jerman sekaligus mengembangkan pengalaman belajar yang lebih luas.
Penelitian ini kemudian melihat bagaimana program tersebut dikelola serta kontribusinya terhadap student wellbeing atau kesejahteraan siswa.
Empat Tahapan Manajemen Program
Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen kurikulum dan pembelajaran interkultural Program PASCH dilakukan melalui empat proses utama, yakni perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta pengawasan dan evaluasi.
Keempat proses tersebut saling berkaitan dalam memastikan program dapat berjalan sesuai tujuan. Pengelolaan dilakukan dengan memperhatikan capaian pembelajaran sekolah, materi dan media PASCH, kebutuhan siswa, hingga target sertifikasi kemampuan bahasa.
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dikembangkan dengan pendekatan yang berpusat pada siswa. Kegiatan tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran konvensional, tetapi juga menggunakan permainan, diskusi, kerja kelompok, media digital, proyek budaya, serta kegiatan yang mempertemukan siswa dengan pengalaman lintas negara.
Program tersebut juga mendapatkan dukungan dari Goethe-Institut, antara lain dalam bentuk buku, media pembelajaran, pelatihan, sertifikasi, dan kegiatan internasional.
Lima Strategi Mendukung Student Wellbeing

Salah satu temuan penting dalam penelitian ini adalah adanya lima strategi sekolah dalam mendukung student wellbeing.
Strategi pertama adalah membantu siswa membangun mimpi dan motivasi. Kedua, menciptakan pembelajaran yang aktif sekaligus aman sehingga siswa memiliki ruang untuk berkembang.
Ketiga, sekolah memberikan pendampingan secara personal. Keempat, keterlibatan orang tua dan alumni turut diperkuat dalam mendukung perkembangan siswa. Kelima, sekolah membuka ruang bagi siswa untuk menyampaikan aspirasi.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan siswa tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik. Aspek emosional, hubungan sosial, motivasi, rasa aman, serta kesempatan untuk menyampaikan suara juga menjadi bagian penting dalam pengalaman pendidikan.
Pengalaman Siswa Dianalisis dengan Model PERMA
Penelitian ini juga menganalisis pengalaman siswa melalui lima dimensi Model PERMA, yaitu Positive Emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishment.
Dimensi Positive Emotion terlihat melalui rasa senang dan bangga yang dirasakan siswa selama mengikuti program. Sementara Engagement tercermin dari keterlibatan siswa dalam berbagai aktivitas pembelajaran dan kegiatan interkultural.
Pada dimensi Relationships, siswa memperoleh kesempatan membangun hubungan positif dengan guru dan teman. Adapun Meaning terlihat dari pengalaman yang membantu siswa menentukan arah pendidikan dan karier.
Sementara itu, dimensi Accomplishment tercermin melalui pencapaian kemampuan bahasa, sertifikasi, serta pengalaman mengikuti kegiatan internasional.
Penelitian Menggunakan Studi Kasus

Septiani menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi.
Informan penelitian melibatkan sejumlah pihak yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan Program PASCH, mulai dari kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru bahasa Jerman, koordinator Program PASCH, siswa, alumni, hingga orang tua.
Pendekatan tersebut memungkinkan penelitian melihat pengelolaan program secara lebih mendalam, termasuk pengalaman berbagai pihak yang terlibat di dalamnya.
Pendidikan Internasional Tidak Hanya Mengejar Kompetensi
Temuan penelitian Septiani memperlihatkan bahwa program pendidikan internasional dapat diarahkan tidak semata-mata untuk meningkatkan kemampuan akademik dan kebahasaan.
Pengelolaan yang tepat dapat menciptakan pengalaman belajar yang turut mendukung perkembangan sosial, emosional, dan personal peserta didik. Dalam konteks tersebut, student wellbeing menjadi bagian penting dari keberhasilan program pendidikan.
Program PASCH di SMA Negeri 5 Malang menjadi contoh bagaimana pembelajaran bahasa dan interkultural dapat dipadukan dengan upaya menciptakan lingkungan belajar yang aktif, aman, suportif, dan memberikan ruang bagi perkembangan siswa.
Bagi dunia pendidikan, temuan tersebut juga menunjukkan pentingnya manajemen program yang memperhatikan kebutuhan peserta didik secara menyeluruh. Pendidikan tidak hanya tentang apa yang dipelajari siswa, tetapi juga bagaimana mereka mengalami proses belajar dan berkembang selama berada di lingkungan sekolah.
Kesimpulan
Penelitian skripsi Septiani Cahyaning Putri, mahasiswa S1 Manajemen Pendidikan UM, menunjukkan bahwa pengelolaan Program PASCH di SMA Negeri 5 Malang dapat menjadi bagian dari upaya mewujudkan student wellbeing.
Melalui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, serta pengawasan dan evaluasi, program dikembangkan dengan menggabungkan pembelajaran bahasa Jerman, pengalaman interkultural, teknologi, serta berbagai aktivitas yang berpusat pada siswa.
Lima strategi sekolah dan lima dimensi Model PERMA menunjukkan bahwa kesejahteraan siswa memiliki cakupan yang luas, mulai dari emosi positif, keterlibatan, hubungan sosial, kebermaknaan, hingga pencapaian.
Penelitian ini memberikan pesan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui nilai akademik. Pengalaman belajar yang aman, bermakna, inklusif, dan mendukung perkembangan siswa juga menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan yang berkualitas.